Puncak Bawakaraeng 5

" Berhitung " teriak Johan

Satu..
Dua..
Tiga...
Empat...
Lima...
Enam...
Tujuh...
Delapan...
Mbilan.. ← Dulung jablay
Sepuluh..
Sbelas..
Duablas... ← Saya disini
Tigablas...
Empatblas..
SIAP CUKUP ← Dimas tutup

   Suasana malam semakin menerkam, angin yang bertiup dan membawa udara dingin menambah sensasi horor saat itu. Lindungilah kami dari godaan syaitan yang terkutuk :( entah berapa meter lagi sampai di pos 4 entah sudah di ketinggian berapa kami. Yang kami fikir siapa satu itu? Dan nomor berapa yang dia sebut ?

   Semuanya panik. Johan menghentikan langkahnya dan menyuruh untuk merapatkan barisan.

-------------------------------------
" Putra Pratian " Pradana dengan tegasnya (Johan)

" Siap " teriak barisan dengan lantang

" Britung !!! Mulai !!! Tu.. " Pradana

Duaa
Gaaa
Paat
Lmaa
Naaam
Tjuuu
Lapaan
Mbilaan
Puluuhh
Belaaas
Duablassss
Gablaaas
Patblaaas
SIAP CUKUP

*Bayangkan pada saat kalian ingin LKBB
-----------------------------------
   " Kenapa na bertambah satu ? " tanya Johan bingung

   " HAHAHAHAHAHAHAHAHA " Dimas tertawa dengan sangat bernafsu

   " Dimas yansa. Pelaku tersebulungnya. Dia mi setanna " ujar Luki

   " Hahahahaha. Dia awalkan pas Luki bilang " Tiga belas " saya langsung tutup " Siap cukup " . Tapi lama kelamaaan sesudah Luki bilang " Tiga belas " saya lanjut " Empat belas " terus bilangka lagi " Siap cukup " ungkapnya

Rombongan gilaa :( masih sempat sempatnya bikin candaan seperti itu. Di tengah-tengah hutan malam-malam bgini :( pucing pala *lot Luki :'(

   Saat itu juga kami semua ingin memukul Dimas, tapi perjanjiannya hanya yang berkata " sunna " yang di pukul borong-borong .

   " Sunna Dimas " ungkap Tri

KEMUDIAN TRI DI PUKULI :"(

Perjalanan dilanjutkan kembali....

Skip

Skip

Skip

    Patok Trigulasi pos 4 terlihat. Johan tidak berhenti, dia terus berjalan. Saat itu yang kufikirkan, inilah pos yang dimaksud Dimas. Tiba-tiba saja saya mendengar suara perempuan menangis.

   Saat itu pikiran saya amburadul. Tatapan kosong memandang tanah dan terus berjalan kedepan. Suara tangisan yang tadinya samar-samar sekarang makin jelas di telinga saya.
" Yaa Allah "
" Astagfirullah aladzim Astagfirullah aladzim Astagfirullah aladzim "

*puk puk* Imam menepuk bahu ku

   " Jangan ko dengar ki caks. Janganko fikir ki. Fikirko yang seru-seru, misalkan Tri sama Dulung berkelahi "

   " Ko dengar juga ? "

   " Biasa jitu " jawab Imam dengan cuek

   Tepat di depan Patok Triangulasi Pos 4 terdapat tumpukan batu yang tersusun dengan rapi. Yang notabenenya adalah sebuah makam.

Skip

   Akhirnya istirahat juga......

   " Kuburan tadi itu di pos 4 toh Dimas ? " tanyaku

   " Iyo. Diam mko. Jangan mko sebut-sebut ki "

   " Brapa jarak ke pos 5 Tri ? " tanya Umam

   " 1,1 km "

   " Lumayanlah ini ke pos 5. Bikin capek " ungkap Eko Sujaya

   " Kasi keluar roti An "

   Udara saat itu sangat dingin, tubuh ini dibuat menggigil. Suhu saat itu berkisar 100 Kelvin.

    " Kenapa ko cak ? " tanya Dulung kepadaku

    " Tidak ji. Dingin sekali " ungakapku dengan ter-batabata

   " Gawat eko kedinginan hebat. Cepat peluk dia. Beri dia kehangatan " Dulung jablay

   " Alay. 5cm "
-------------------------------------
Tapi memang udara gunung saat itu sangat dingin. Pada saat itu saya hanya memamkai Kaos (dan celana pastinya) tetapi pada saat berjalan tadi, saya sama sekali tidak merasakan kedinginan seperti ini. Saya pun menyimpulkan, ternyata tubuh kita akan memanas pada saat kita sedang bergerak. Iyakan?
--------------------------------------

   " Lanjut ? " ajak Johan

   " Angkat carrier mu Tri "

   " Warming up "

   " Go go go "

   " Taking fire, need assiten "

   " Get out of there, it's gonna blow "

   " Regroup team "

   " Oh yeah "

   " Nice shot "

   " Headshot "

   " Double kill "

   " Triple kill "

   " Chain headshot "

   " Chain killer "

   " Chain killer "

   " Must kill "

   " Piercing shot "

   " Chain killer "

   " Chain killer "

   " Chain stopper "

   " Hold this position "

   " Enemy down "

   " Cover me "

   " Need backup "

   " Love me "

   " Love back me "

   " Bomb has been planted "

   " Bom dijus "

Mission suksees

*Oke lupakan pointblank.......

   " We ekoo " panggil Johan

   " Kenapai ? " jawabku secara bersamaaan dengan kata yang dengan Eko Sujaya

Kok bisa sama ? Mungkin kita jodoh ? Jadian yuk !

    " Haha. Eko sujaya . Eko pnup. Di depanko kau. Saya pa di tengah "

    " Oke kanda "

    " Deh 3 namanya Eko disini. Eko Sajaya, Eko Wardana, Aan Eko Putra " ungkap Tri

    " Aan mo saya panggil kan ka " cetus Aan Eko Putra

   " Ganti mi peng dulu namaku disini jadi Auv Abdurrahman. Jadi panggilma saja Auv " ujarku

   " Njo mi seng Aup "

   " Ekoh mo kau koh " ujar Aan

   " Ayomi lanjut deh. Lama mki disini " Dimas, 18tahun

   " Jadi apa kesimpulannya dimas ? "

   " Eko pnup, ekoh , aan "

Pos 5 here we go~

  Baru jalan sedikit,  langsung disapa tanjakan. Batu dan dahan pohon menjadi tumpuan untuk membatu mengangkat badan keatas.  Dan melawan dinginnya udara malam

   " Eko stop ko dulu. Kenapa naik terus ki. Dari tadi belum ketemu pki jalan landai " teriak Johan dari barisan tengah

Istirahat sejenak sembari mengatur nafas....

   KRIK KRIK

Tak satupun dari kami yang ingin angkat bicara. Semua sibuk mengatur nafas dan mengisi ion-ion tubuh yang hilang. Satu hal yang kami tahu, kami salah jalur~

   " Tunggu dulu disini nah. Carika jalur sama Eko " ujar Johan

   " We roti dule an " minta Umam

   " Ine 3 potong mami "

   " Sinimi semua "

   " We we bagi dule "

   " Mending jangan mi makan kalau tidak makan semuaki caks " ujarku

   " Pasti mauko lanjut bilang, Nda makan ka saya kalau tidak makan temanku " ungkap Dimas

:')

3 potong roti dibagi 14. Kami semua makan bersama-sama. Dibawah langit yang berhamburan bintang, disaksikan oleh pohon-pohon berlumut dan makhluk-makhluk lain yang tidak kasat mata. Mungkin mereka iri dengan kebersamaan kami. Makan menjadi lebih nikmat apabila dilakukan bersama seperti ini, karena semua yang dilakukan bersama pasti akan sangat mengesankan.

   " Asik acara makan-makan kah ? " tegur Johan yang baru datang

   " Tabe' ces untuk kau sama Eko pnup "

   " Eh bedeway ndada jalur di depan "

   " Astaga jangam jangam. Kita tersesat "

   Dari bawah ada cahaya senter yang melewati media pohon. Sebagian cahaya ada yang diserap oleh pohon, ada yang di pantulkan, dan ada yang diteruskan hingga sampai ke tempat kami ngumpul.

   " Apa bikin di atas kanda ? Nda jalur tembus ke pos 5 diatas " teriak seorang pendaki dari bawah

   " Arisangi anak anaka tawwa " jawab Johan

   " Duluan pade di' "

   " Iye hati-hati "

----

   " Turunki lagi ke bawah eh "

   " Tundulu sebentar " ungkap Luki

   " Atau yang barisan depan duluanmi sama Eko , yang mau duluan-duluan mi. Ambil memangmi tempat camp di atas. Ramai ini orang, nanti full ki server ka "

Mulai dari sini kami pun terpisah menjadi dua kelompok.
▶ Eko pnup, Tri, Marten, Alfian, Aldy, Umam
▶ Johan, Dimas, Auv, Luki, Aan, Dulung, Imam, Iccang

Skip

Skip

Skip

   Johan berjalan dengan sangat kencang seperti berlari. Sepertinya sebelum nanjak tadi dia meminum susu kuda liar. Sehingga dia bisa se lincah itu. Sletelah melewati tanjakan, akhirnya kami kembali bertemu dengan Johan yang sedang duduk di batang pohon yang tumbang.

   " Pos 5 " ujarnya

   Johan seperti sosok Genta pada film 5cm. Saat Genta berkata " Teman-teman , selamat datang di Ranu Kumbolo. Surganya gunung semeru " . Yah dia lumayan berhasil meniru adegan Genta saat itu.

   Sesampai di pos ini saya sangat lega. Akhirnya capek hari ini berakhir disini. Kelegaan itu bertambah ketika melihat hamparan tenda-tenda dengan warna warna yang bervariasi, ditambah dengan nyala api unggun kecil. Membuat hati ini menjadi semakin damai.

   " Mana ini Tri dkk ? " tanya Imam

   " Ada disana istirahat " jawab Johan

   " Brarti dari tadi mko sampai ? " tanya Dimas

   " Yang lumayan . 1 batangmi habis. Kau semua lama sekali jalan "

Efek susu kuda liar~

Pendirian Tenda

   Rombangan kami hanya membawa 2 buah tenda. Sebuah tenda induk pramuka, sebuah tenda dome 3 orang.

It's time to show the scout

   " Mana dewan eh. Bangun tenda " ujar Alfian

   " Tri laksanakan " ujarku

   " Deh masa saya ji sendiri " protes Tri

   " Talk less do more " ungkap Dulung

   " Talk less do more " ungkap ku sambil menggelar tenda bersama Dulung

   " Talk less do more " ungkap Aan sambil mengambil tali dan tiang tenda

   " Talk less do more " Marten ngikut

Tri ? Yah hanya berdiri diam :'(

Disisi lain, Johan, Dimas, dan Eko pnup sedang sibuk mendirikan tenda yang satunya.

Pos 5, 21.55

  " We tabe' cak. Coffee hangat "

  " Sipsip " ujarku sambil mengambil segelas kopi dari tangan Alfian

  " Beh . Dingin sekali " ujarku dengan ter-batabata

  " Deh menggigil ko cak " tegur Dimas
  " Sudah jko ganti baju mu ? " tanyanya

  " Belum "

  " Pantasan. Ganti bajumu dulu baru pakai jaket. Sebentarkan hipotermia ko "

  Dari pos 5 kita dapat melihat Malino dari ketinggian 2167meter diatas permukaan laut. Pemandangan yang sangat keren, yang terlihat memang hanya cahaya-cahaya lampu yang berwarna warni. Tapi jika dilihat dari ketinggian seperti ini, seperti bukan lampu. Melainkan sekumpulan kunang-kunang yang sedang memamerkan keindahan cahayanya.

   " Keren toh ? "

   " bah Imam. Bisanya kayak begini. Maha karya Tuhan menciptakan bentuk seperti ini "

   " Haha iyoiya. Tidak ada karya Tuhan yang tidak keren "

Tanpa sadar Imam membuat sebuah Qoute

Tidak ada karya Tuhan yang tidak keren

  " Sama halnya dengan takdir Tuhan. Tuhan mungkin tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi Tuhan memberi apa yang kita butuhkan. Percayalah Takdir Tuhan tidak ada yang jelek, pasti baik semua " ujarku

Bersambung.....

Puncak Bawakaraeng 4

   Johan mengeluarkan gumpalan asap dari dalam mulutnya. Kemudian memasukkan puntung rokoknya ke dalam plastik yang dia simpan di kantong daypacknya.

   " Ayo lanjut " ujarnya

   " Angkat carrier mu Tri " ungkap Dulung

   Kami mulai melangkah menuju pos 2, warna langit mulai berubah menjadi jingga karena pancaran dari sinar matahari yang mulai meredup. Formasi yang digunakan masih sama seperti formasi yang tadi. Johan di barisan terdepan, Eko Sujaya di tengah, Dimas di barisan belakang.

   Menuju pos 2 jalurnya masih landai. Pada perjalanan ini tidak ada pemandangan yang dapat kita nikmati, selain pepohonan. Kiri kanan depan belakang kulihat saja banyak pohon pohon besar. Ditengah perjalan saya mencium bau tidak sedap, sepertinya ini bau belerang. Dengan sigap saya menarik Buff yang saya kalungkan di leher hingga menutupi sebagian wajah saya untuk mencegah gas beracun ini masuk kedalam hidung dan terus masuk ke pernafasan.

   " Beh siapa kentut ini ? " ternyata Aldy juga mencium bau yang sama
   " Kau toh Tri ? " lanjut Aldy menuduh Tri yang ada di depannya.

   " Sorry cak. Haha " jawabnya sambil memancarkan senyum pepsodent

   Ternyata bau tidak sedap itu bukan bau belerang. Tapi bau gas yang di keluarkan Tri. Entahlah unsur apa yang terkandung di dalamnya.

   " Kau paeng kentut Tri, ku kira mami bau belerang. Ka mirip-mirip ki baunya " ujarku

   " Berarti gas yang na keluarkan Tri, H2S " teori Dulung

   " Tidak. Kalau saya ku cium-cium kayak baunya 2,3-dimetilsiklopentana " teori Dimas :')

   " CARITAAA "

   Tri masih mempertahankan senyumnya. " Tri kalau senyumko , jangan miko tambai lagi glukosa. Tambah manis ki caks " ujarku mencoba memuji Tri, yang ter-bully.

   " Kak eko ji memang paling mengerti " sambil memegang tanganku dan mengedipkan matanya

Inikah jurus rahasia Tri saat memikat wanita ? @$@&#^%£€₩¥♥

   " Hedlem mu ces, pake ki "

   Senja berganti malam. Gelap. Kami hanya bermodal 7 headlamp dan 3 senter.

   " Masih jauh pos 2 ? " tanya Alfian

   " Di depan ki pos 2 " jawab Johan

*nassami di depan. Masa di belakang*

Skip

Skip

Skip

Pos 2, 19.08

   " Minum secukupnya baru lanjut. Jangan mki terlalu lama istirahat. Ke pos 3 sebentar sekali ji " ungkap Johan

   " Bagaimana Joger aman ? " lanjutnya

   " Masih lengkap. Love Right, Love Left nya " jawab Marten

   " Lanjut ? " ajak Eko Sujaya

   " Angkat carrier mu Tri " cetus Dulung

Pos 3 here we go~

   " Ih ke pos 3 jaraknya 308meter ji dari pos 2. Dekatnya ji " ungkap Tri

   " Kenapako bisa tau ? " tanya Luki dengan heran

   " Ine foto rute pendakian daritadi ku foto " sambil memperlihatkan sebuah foto di ponselnya

   Perjalanan ke pos 3 belum terlalu mendaki, jalurnya masih relatif landai. Mulai dari pos 3 lah, formasi perjalanan mulai berubah-ubah.

Awalnya : Johan, Luki, Alfian, Umam, Aan, Tri, Aldy, Eko Sujaya, Marten,  Dulung, Imam, Iccang, Saya, Dimas

Recent: Johan, Marten, Alfian, Umam, Aldy, Eko Sujaya, Tri, Iccang, Dulung, Aan, Imam, Saya, Luki, Dimas

Deh berubanamo~

   Luki ter-mundur hingga barisan belakang. Yah, mungkin Luki lellah......

   " Imam berapa kali mko ke Bawakaraeng ? " tanyaku

   " Kedua kalinya mini " jawab Imam

   " Kau hafalmi jalurnya ? "

   " Tidak pi. Hahaha "

   " Beh jadi kalau tidak ketemu ki tadi ? "

   " Masih banyakji pendaki lain bisa diikuti toh "

Skip

Skip

Skip

Pos 3

   Sesampai di pos 3. Pos 3 merupakan sebuah tempat terbuka, Tri menjatuhkan carriernya, sembari duduk diatas tanah dan bersandar disebuah pohon besar.

   " Janganko sandar disitu " tegur Johan

   Tri spontan ter-kaget-kan langsung berdiri sambil melihat pohon itu dari bawah hingga keatas. Untungnya dia tidak tersenyum sambil mengedipkan mata. Andaikan saja dia tersenyum dan mengedipkan mata ke pohon itu, dan andai saja pohon itu bisa berbicara mungkin pohon itu akan berkata seperti ini, " Baperka Tri  " @#$@@7##&#'^@@^#^♡

   " Air dule. Hauska, kosongmi vedples ku " <----- dicueki

   " Woy aer aerr " mulai rese'

   " Ine blam. Lu rese' kalau lagi dehidrasi " Dulung sambil memberi sebotol air

   " Terbaik " ujarku

   " Awas baperr " sindir Aan

Sekelompok pendaki lain melewati kami sambil tersenyum dan berkata:

   " Tabe' kanda di' "

   " Iyye "

   " Duluan kanda "

   " Iyye, hati-hati ki "

   " Tabe' kanda. Duluan "

   " Iyye. Tiati ki sodara "

-----------------------------

Pos 4 here we go~

   Setelah istirahat singkat, tanpa tunggu lama kami mulai melanjutkan perjalanan ke pos 4.

   " Berapa jaraknya Tri ? " tanya Marten

   " 911meter. Lumayan lah "

Skip

Skip

Skip

   Malam semakin malam , dan suara suara penyeruMu telah diperdengarkan. Maka ampunilah aku~

Setengah perjalanan ke pos 3 telah terlampaui, tiba tiba Luki ter-duduk-kan sambil mengatur nafas.

   " Break dulu ces " teriak Dimas dari barisan paling belakang

   Spontan semua personil berhenti dan duduk dipinggir jalur. Tapi saya terus berjalan menuju barisan depan.

Menuju tak terbatas dana melampauinya ~

   " We Tri sini ko " Saya menarik tangan Tri untuk ikut berjalan ke barisan depan untuk menanyakan sesuatu ke Johan *tidakpakebaper*

   " Kenapai tadi itu pohon yang na tempati Tri sandar pas di pos 3 ? " tanyaku dengan penuh penasaran

   " Menurut cerita, pernah ada perempuan gantung diri di pohon itu. Mayatnya di dapat warga, tergantung di dahan pohon. Biasa juga ada pendaki lihat penampakannya. Itumi jarang ada singgah di pos 3 istirahat kalau malam. Kalau singgah paling sebentar sekali ji kayak tadi kita. "

   " Deh siala angker " ungkap Marten

   " Pantas kayak dingin sekali tadi hawa nya di sana. Kayak lain-lain ki. Nyak Tri " timpal Alfian

   " Apatong deh. Janganko begitu dule. Merindinga ine "

   " Nyak Tri "
------------------------------
" Tabe' di' kanda "

" Iyye . Hati-hati kanda "
------------------------------

   " Lanjut ? " teriak Johan

   " Yoo "

   " Merapat dulu semua kesini " ajak Johan
   " Jambrapami ? "

   " Hampir stengah 9 "

   " Bgini nah. Tadi itu di pos 3 .......... " Johan menerangkan tragedi pohon yang di pos 3

   " Ih serem ih " cetus Dimas

   " Gagara Tri ini sandar-sandar "

     HAHAHAHAHA

    " We janganko dule bgitu. Merindinga ine "

    " Karena lumayan malammi. Maumi juga masuk tengah malam. Janganki sampai pisah. Jalan pelan saja, kalau ada capek bilang. Sambil jalan juga berhitung mki untuk cek personil " arahan dari Bang Jo

    " Sip kakanda "

    " 14orang ki semua "
  
Skip

Skip

   " Berhitung "

Satu ← Johan
Dua
Tiga
Empat
Lima
Enam
Tujuh
Delapan
Mbilan  ← Dulung jablay
Sepuluh
Seblas
Duablas ← Saya disini
Tigablas
SIAP CUKUP ← Dimas menutup

Berulang kali kami berjalan sambil berhitung seperti ini, agar tidak ada salah satu dari kamj yang hilang. Asik juga kalo ada yang hilang ditengah hutan malam-malam begini. Dan setiap akhiran, Dimas selalu berteriak " Siap Cukup " bukan menyebut " empat belas "

Sampai pada akhirnya ada kejanggalan di saat kami berhitung.

Perhatikan yaa....perhatikan baik baik

" Berhitung " teriak Johan

Satu..
Dua..
Tiga...
Empat...
Lima...
Enam...
Tujuh...
Delapan...
Mbilan.. ← Dulung jablay
Sepuluh..
Sbelas..
Duablas... ← Saya disini
Tigablas...
Empatblas..
SIAP CUKUP ← Dimas tutup

Tim kami bertambah satu orang.... :(

bersambung.....